Overwatering dan akibatnya pada tanaman anggrek


Kebanyakan air atau yang disebut dengan overwatering, sering terjadi pada tanaman anggrek kita. Disadari ataupun tidak, ini sering terjadi pada saat musim hujan, seperti kondisi saat ini. Memang tanaman anggrek butuh kelembaban, namun bukan berarti butuh air yang berlebih. Overwatering sering terjadi pada pemeliharan tanaman anggrek yang hanya dibawah naungan paranet. Dimana air hujan bisa menembusnya masuk.

Kebutuhan air pada tanaman anggrek harus terkontrol. Kebutuhan air sangat dipengaruhi oleh media tanam yang digunakan. Kejadian overwatering beresiko dan akan sangat merugikan. Untuk menghindari hal demikian, diluar kejadian hujan yang terus menerus seperti saat ini, penyiraman yang dilakukan harus pas dan terukur. Untuk itu perlunya diperhatikan faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi penyiraman.

Akibat overwatering yang sering muncul pada tanaman anggrek :

1.    Menyebabkan top-rot, dimana membusuknya tunas-tunas atau ujung akar. Kebanyakan air atau overwatering akan membuat media tanam terlalu basah, sehingga akar-akar tanaman tidak akan dapat melakukan pernafasan dan transpirasi dengan baik. Kemudian membusuk dan mati. Kebanyakan air juga akan menyebabkan daun-daun tua membusuk atau sering disebut leaf-rot.

2.    Menyebabkan pertumbuhan bakteri dan jamur. Sehingga menyebabkan penyakit seperti bercak daun, busuk akar, busuk tunas bahkan rontoknya kuncup-kuncup bunga.

3.    Menyebabkan cepat rusaknya media tanam. Mudia tanam akan penuh dengan lumut, cepat hancur dan membusuk. Yang mana akan mempengaruhi kesehatan dan pertumbuhan tanaman anggrek.

4.    Menyebabkan membusuknya akar secara keseluruhan. Ditandai dengan daun-daun anggrek menjadi keriput. Seperti kekurangan air. Biasanya bagi penggemar anggrek pemula hal ini sering dianggap kekurangan air. Sehingga siraman diperbanyak terus. Akibatnya akar akan tambah membusuk dan tidak bisa menyerap air, daun menjadi keriput, bila berkelanjutan tanaman mati. Cara mengatasinya bongkar tanaman kemudian digantung. Penyiraman hanya dengan dispray pada daunya. Bila kondisi akar sudah tumbuh tunas akar baru dan daun mulai membaik tanaman dapat dipot kembali.

Air memang sangat dibutuhkan oleh tanaman namun juga dapat menghancurkan tanaman itu sendiri. Sangat disayangkan bila tanaman anggrek yang lama kita tunggu bunganya mati hanya karena kebanyakan air. Namun bila tidak bisa kita hindari karena kondisi lingkungan seperti musim hujan yang terus mengguyur seperti saat ini. Maka faktor-faktor untuk meminimalkan overwatering harus kita perhatikan (posting berikutnya). Yang jelas akan menambah biaya perawatan. Bagi hobiis sekala kecil hal ini tidak terasa, namun untuk skala usaha pastinya akan menambah biaya produksi yang tidak sedikit. Untuk itu perlunya dipikirkan dan dikalkulasi ulang pemeliharaan tanaman anggrek dalam green house plastik.

3 Tanggapan

  1. […] Overwatering dan akibatnya pada tanaman anggrek […]

  2. mas wawa, aku mau tanya kalo anggreku tuh ga mau tumbh akar br. jd tinggl bulbnya aja tp msh mau bunga. br2 ini aku cbt dr pot trus aku gantg. akrnya htm smua. itu krn kbykn air ato gmn? aku tggu jwbnya y tx

  3. Bisa juga kebanyakan air, shg berjamur, tindakan anda menjabut sudah benar, sayangnya anda tidak menyebutkan
    anggrek apa? kalau dendro digantung dan dibalik taruh dibawah rak (daerah lembab), nanti akan cepat tumbuh tunas dan akar baru.
    Tapi kalau masih ada daun dipot lagi kasih media baru (mungkin media anda sudah asam). jangan lupa dikasuh tiang dan ikat, biar tidak goyang.
    Karena kalau sering goyah, akar baru susah tumbuh. terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: